Model Intercroping Kakao Hasilkan Pendapatan Rp. 500.000.000/ha
Salah satu cara untuk mengefektifkan pendapatan dari lahan dengan menanam kakao sebagai tanaman utama, dengan dengan menerapkan sistem intercropping. Lalu bagamana bagaimana model pengembangan yang bisa jadi pilihan.
Langkah awal adalah dengan menetapkan tanaman yang dibisa ditanaman dengan kakao. Ada tanaman penaung sementara, tanama sela, tanaman penaung tetap dan tanaman pembatas kebun. Maka opsinya penggunaan penaung sementara berupa pisang. Tentu saja dari menanam pisang pekebun bisa mendapatkan penghasilan.
Lalu untuk tanaman sela yang bisa dikembangkan sebelum kakao menghasikan pilihannya padi gogo atau jagung. Dengan potensi panen bisa 2 – 3 setahun.
Untuk tanaman penaung tetap, ada 2 pilihan. Bisa pinang, gamal yang dililitkan vanili atau kelapa. Sebagai pembatas kebun pekebun bisa menanam aren, gaharu yang dikombinasikan dengan sereh wangi.
Mari kita menghitung pendapatan kotor. Dengan asumsi produksi jagung 3 ton, dengan harga Rp. 3.500/kg, maka pendapatan dari tanaman sela untuk sekali panen adalah Rp. 10.500.000,- dengan asumsi 2 kali tanaman maka pendapatan selama 1 tahun, adalah sebesar Rp. 21.000.000. Untuk pisang dengan asumsi 100 batang, dengan produksi 1 tandan per pohon, maka ada 100 tandan dengan asumsi pembelian RP. 60.000,- maka pendapatan Rp. 6.000.000. Selama 3 tahun pertama petani mendpatkan penghasilan Rp.27 juta/tahun
Lalu pada saat kakao sudah panen, dengan asumsi produksi 500 kg dengan harga Rp. 120.000,- maka pendapatan yang diperoleh Rp. 60.000.000,- dan pada saat yang bersamaan vanili sudah mulai dipanen dengan populasi 200 batang, dengan asumsi panen 0,5 kg basah, maka diperolah 1000 kg basah yang jika diolah menjadi kering diperoleh angka 200 kg. Dengan asumsi Harga Rp. 1.500.000/kg maka diperoleh pendapatan 500.000.000,-. Ditambah dari hasil kakao Rp. 560.000.000,-.
Angka ini akan lebih menarik ketika aren sudah mulai menghasilkan. Dengan asumsi untuk penaung populasi tanaman sebanyak 50 pokok dengan jumlah tanaman yang dapat dideres 25 pokok. Dengan asumsi produksi gula kering 1 kg per pokok. Maka setahun diperoleh 200 kg jika dikali 25 pokok maka akan 5000 kg, dengan asumsi harga Rp. 25.000/kg maka diperoleh pendapatan 125.000.000/tahun. Belum dari gaharu dengan jumlah tanaman 5 pokok saja, dengan asumsi produksi getah hingga 10 kg dengan asumsi harga Rp. 3.000.000/kg maka diperoleh pendapatan Rp. 30.000.000. Sehingga total dengan pendapatan kakao bisa hampir mendekatan Rp. 1 Milyar.
Mungkin terlihat teoritis. Tapi tidak ada salahnya dicoba dan dibuktikan.

Comments
Post a Comment