Trik Pengembangan Kakao Menyikapi Kenaikan Harga

 

Lonjakan harga kakao diperkirakan akan cukup panjang. Salah satunya faktornya adanya serangan penyakit yang menurunkan produksi biji dari produsen utama, Pantai Gading. Selain itu permintaan terhadap cokelat khususnya di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, meningkat selama pandemic COVID-19.

Selain masalah penyakit para pakar menilai bahwa kenaikan harga turut disebabnya perubahan iklim yang mengakibatkan penurunan panen. Peneliti dari Harvard University memperkirakan pada taun 2030 bagian dari wilayah Afrika Barat akan menjadi saat panas dan kering untuk menghasilkan banyak kakao. Sementara wilayah ini menyupply hampir 70 persen biji kakao dunia.

Tentu ini kabar baik bagi pekebun kakao di Indonesia. Meskipun beberapa produsen kakao mencoba mencari bahan baku alternatif, namun belum sepenuhnya menggantikan kualitas produk dari kakao asli. Perusahaan kakao perlu mulai berinvestasi di kebun. Tentu saja pola pengembangan kakao yang efisien.

Pertama, melakukan pola penanaman berbasis pekarangan. Perusahaan dapat membagikan bibit kepada petani untuk penanaman di sekitar kediamannya, serta melakukan pelatihan terkait budidaya. Berdasarkan pengamatan Kakao Indonesia, kebun yang berada dekat rumah petani relatif lebih baik pertumbuhannya, karena mendapatkan perhatian yang cukup.

Kedua, penanaman kakao dalam rangka pengembangan agroforestry. Ini bisa memanfaatkan hutan sosial dan lahan-lahan kritis dengan sistem hutan. Dengan pendekatan ini perusahaan tidak hanya mendapatkan manfaat supply bahan baku namun juga carbon credit. Mengingat pemerintah akan menerapkan pajak emisi gas rumah kaca.

Tanpa melakukan langkah-langkah ini maka perusahaan kakao akan sulit mempertahankan keberlanjutan bisnisnya. Mengingat selain harga semakin mahal, dan ketersediaan biji kakao global juga terbatas.  

Comments